RSS

Andai Saya Teman Gayus

Gayus Halomoan Tambunan, namanya menjadi terkenal setelah Komjen Susno Duadji menyebut dirinya sebagai pelaku makelar kasus pajak. Gayus yang hanya seorang pegawai biasa golongan IIIA di Direktorat Jenderal Pajak, berhasil menyulap gubuk reot di Jalan Warakas menjadi rumah elite di Gading Park View. Sebagai pegawai pajak golongan IIIA, memperoleh rumah elite seharga miliaran rupiah tentu sangat mencurigakan, sementara gaji pegawai pajak yang segolongan dengannya hanya berkisar 6 juta rupiah. Alih-alih menyuruh rakyat taat membayar pajak untuk membangun negara, ternyata malah hanya untuk membangun kehidupan para koruptor seperti Gayus saja, sementara negara tidak maju-maju.




Memang kenyataan jaman sekarang, uang dapat membuat orang tergiur dan buta akan kebenaran. Demi kemakmuran dan kehidupan mereka yang lebih layak, seseorang rela menenggelamkan dirinya dalam lumpur korupsi.

Namun, bagaimana seandainya saya adalah teman dari Gayus?
Apakah
yang akan saya lakukan? Memiliki teman yang
bergelimangan harta
dan apabila Gayus ingin membagi sebagian
hartanya untuk saya agar
tidak lagi hidup dalam kesusahan,
apakah saya akan menerimanya?


Kembali kepada hati nurani saya yang berbicara, apabila saya yang menjadi teman Gayus dan apabila saya mengetahui perilakunya, tentu saya akan mengingatkannya bahwa yang dilakukannya sangat merugikan rakyat dan mengingatkannya agar kembali ke jalan yang benar. Saya tidak akan menerima uang yang diberikannya kepada saya meski untuk kemakmuran kehidupan saya. Lebih baik memupuk harta di surga dari pada memupuk harta di dunia dan neraka.

Namun apabila saya tidak mengetahui perilakunya dan baru mengetahui setelah adanya pemberitaan dari media, saya akan menasehatinya agar mengakui kesalahannya, tidak lari dari tanggung jawab, tetapi menyerahkan dirinya untuk menerima hukuman yang pantas dia peroleh dan saya akan berusaha mengingatkannya untuk kembali ke jalan yang benar.
Terakhir yang akan saya lakukan, terlepas dari saya telah mengetahui perilakunya sejak awal ataupun tidak, dan entah dia mau mendengarkan perkataan saya ataupun tidak, sebagai teman yang baik, saya hanya dapat mendoakannya agar dia tersadar dari kesalahannya, mau mengakui perbuatannya, mau bertanggung jawab atas perbuatannya dengan menerima hukuman yang setimpal dengan perbuatannya dan kembali ke jalan yang benar.
Sekarang bagaimana dengan Anda, apabila Anda mendapat pertanyaan tersebut?
Biarlah hati nurani yang masih baik dalam diri Anda menjawabnya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Post a Comment