RSS

Autobiografiku

Merry Susastri, itulah nama yang diberikan oleh kedua orangtuaku sejak aku pertama kali menghembuskan nafas di bumi pada hari Senin tanggal 11 September 1989 pukul 15.15 WIB di R. S. Bhakti Yudha.




Aku tinggal di Depok sejak lahir bersama kedua orangtuaku dan saudaraku laki-laki. Kehidupan keluargaku sederhana, kami tidak bergelimang harta, namun selalu berkecukupan. Ketika aku masih balita (sekitar usia 3-4 tahun), ibuku menderita penyakit gondok, dokter memberinya obat yang memiliki radiasi nuklir, dan disarankan agar jauh dari anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan dan ibu-ibu hamil. Oleh karena itu, aku dan kakakku yang berusia 5 tahun lebih tua dariku dititipkan kepada tante (kakak perempuan ibuku) dalam waktu yang cukup lama. Beruntung aku masih dapat kembali kepada ibuku setelah ibuku sudah sembuh, sebab aku hampir saja tidak mau kembali kepadanya lantaran aku lupa dengan wajah ibu asliku, karena cukup lama tinggal bersama tante dan memanggilnya "mama". Namun syukurlah aku masih ingat dengan suara ibuku, sehingga aku yang sebelumnya bersembunyi di balik kursi karena takut dibawa ibu, ketika mendengar suara ibuku terus memanggilku dan mengingatkanku bahwa dia adalah ibu kandungku, aku lari ke pelukan ibuku kembali.

Hari-hari sebelum bersekolah, ibu rajin mengajariku membaca dan menulis, sehingga setelah memasuki Taman Kanak-Kanak, aku sudah pandai membaca dan menulis dibandingkan teman-teman yang lain. Ketika usiaku menginjak 5 tahun, aku disekolahkan di Taman Kanak-Kanak Siloam. Aku ingat pada saat hari pertama berkumpul di TK adalah hari Jumat, pagi-pagi ibu memandikanku seperti hari biasa. Namun ada yang berbeda pada pagi itu. Ayah memakaikanku pakaian yang berbeda dari pakaianku di rumah biasanya (yaitu seragam olahraga, tetapi saat itu aku belum tahu pakaian apa itu). Aku bertanya kepada ayahku mengapa aku dipakaikan baju itu, memang aku akan dibawa ke mana. Ayah menjawab akan membawaku ke sekolah. Entah mengapa aku takut sekali saat itu, aku tidak tahu sekolah itu apa dan bagaimana bentuknya. Ibu mengantarku ke sekolah, aku begitu takut karena ramai sekali situasi di sana, banyak anak yang menangis karena dipisahkan dengan orangtua mereka, orangtua hanya diizinkan menunggu di luar. Ketika ibuku perlahan pergi dari jendela kelas, aku pun menangis seperti teman-teman yang lain. Hahaha..aku jadi tertawa mengingat masa kecilku ini. Namun akhirnya setelah beberapa lama bersekolah, aku pun terbiasa dengan situasi di sana. Di sana aku sering diejek teman-temanku dengan sebutan "gendut", karena saat itu tubuhku memang gemuk, sehingga aku sempat memutuskan tidak mau makan untuk menguruskan badan, tetapi rencana itu gagal karena orangtua terus berupaya membuatku mau makan.
Aku melanjutkan pendidikan ke Sekolah Dasar Siloam hingga usai menyelesaikan kelas 3 SD. Beberapa hari sebelum ujian kenaikan kelas dari kelas 3 ke kelas 4, aku meminjam buku-buku temanku untuk di-fotocopy, karena semua bukuku disimpan di toko baju ayahku habis dilalap api ketika tragedi Mei 1998. Bersyukur aku masih dapat naik ke kelas 4 SD, dan aku melanjutkan pendidikan ke sekolah yang lebih dekat dengan rumahku, yaitu di SD Kwitang VIII PSKD Depok dari 4-6 SD. Aku dipindahkan oleh orangtuaku bukan hanya karena lebih dekat dengan rumah, tetapi juga karena faktor lain yang membuat ibu kasihan padaku ketika di sekolah lama. Setelah dipindahkan ke sekolah baru, aku merasa lebih baik dan tidak sering bersedih dan menangis lagi.
Dari kecil sebelum toko baju milik ayah hangus terbakar, aku selalu bermain bersama karyawan-karyawan penjaga toko, seorang karyawan yang paling akrab denganku yang paling menyayangiku yaitu Mbak Wati. Dia bertubuh kecil, kurus, berambut ikal-panjang, dia sering menjemputku dan kakakku pulang sekolah jika orangtua sedang tidak sempat, dengan menaiki becak langganan orangtuaku. Seusai sekolah aku tidak langsung pulang ke rumah, tetapi pulang ke toko mengikuti orangtuaku yang mengurus toko dari pagi hingga tutup toko jam 8 malam, sehingga buku-buku pelajaranku disimpan di toko dan mengerjakan tugas-tugas di sana. Di waktu senggang bila tidak ada tugas sekolah, aku bermain boneka atau Nintendo dengan kakak, menghampiri ibu yang sibuk di dapur, bersenda gurau dengan ayah, main bersama Mbak Wati bila sedang tidak ada pelanggan ke toko, atau terkadang anak pemilik toko sembako yang letak tokonya cukup dekat dengan tokoku datang mengajakku bermain. Namun setelah tragedi 1998 itu, aku jarang sekali bertemu dengan Mbak Wati ataupun anak pemilik toko sembako itu lagi. Orangtuaku pun sempat mengalami trauma semenjak tragedi itu, dan tidak membuka usaha apapun selama 2 tahun, jadi selama 2 tahun itu sepulang sekolah aku langsung pulang ke rumah. Pada tahun 2000, barulah orangtuaku mencoba melawan rasa trauma dan mulai membuka usaha lagi, dengan usaha yang berbeda dengan sebelumnya, yaitu toko beras, dan setiap pulang sekolah aku dijemput supir pulang ke toko menemani orangtua hingga jam 5 sore. Namun mulai kelas 3 SLTP aku memutuskan untuk pulang ke rumah saja, karena bosan seharian berada di toko, sehingga aku selalu menjaga rumah sendiri bila anggota keluarga yang lain belum pulang, dan hal ini berlangsung hingga saat ini.
Seusai tamat SD, aku melanjutkan ke SLTP 6 PSKD Depok, di SLTP prestasiku semakin meningkat dan cukup memuaskan, padahal sebelumnya ketika SD prestasiku biasa-biasa saja, bahkan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan teman-teman lain. Namun di SLTP guruku mengajar dengan begitu menyenangkan hingga aku menyukai fisika (terima kasih Pak Dimpu), dan mendorongku jadi lebih menyukai pelajaran yang berhubungan dengan menghitung (terutama di bidang IPA). Hal itu membuatku termotivasi untuk lebih rajin mengerjakan tugas-tugas, dan kesenanganku pun berlanjut hingga SMA 7 PSKD Depok. Kesukaanku pada pelajaran IPA membuatku memilih jurusan IPA ketika memasuki kelas XI, dan bersyukur orangtuaku sanggup membiayaiku masuk ke perguruan tinggi swasta, Universitas Gunadarma. Orangtuaku menyarankanku yang saat itu bimbang ketika memilih jurusan, untuk memilih jurusan yang berhubungan dengan komputer, karena jaman sekarang sudah banyak menggunakan komputer dan komputer terus mengalami perkembangan dari jaman ke jaman, sehingga orangtua melihat bahwa prospek untuk ke depannya lebih baik. Akhirnya aku mengikuti saran orangtuaku, aku memilih jurusan Sistem Informasi yang masih berkaitan dengan komputer. Beruntung aku mendapat beasiswa dari Universitas Gunadarma ketika mendaftar. Beasiswa yang diberikan dengan melihat dari hasil Try Out Ujian Nasional yang diberikan Gunadarma ke sekolahku. Hingga saat ini (tanggal 18 April 2010) aku masih berkuliah di semester 6, kelas 3KA01.
Ketika duduk di bangku SD, aku sempat bercita-cita menjadi pilot, padahal tidak ada pilot wanita, namun itulah imajinasiku saat masih kecil. Aku juga sempat bercita-cita menjadi dokter, kemudian ketika SLTP dan SMA cita-citaku ingin menjadi seorang arsitek, design interior, dan psikolog. Tapi akhirnya tidak ada satupun dari imajinasi cita-citaku yang kesampaian, justru aku memilih jurusan yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya, karena saat aku lulus SMA, nilai mata pelajaran Komputer "pas-pasan". Namun inilah jalan hidup yang telah kupilih dan harus ku jalani dengan sepenuh hati, dan ternyata aku menikmatinya hingga sekarang.
Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu, dan sebentar lagi aku akan menulis Penulisan Ilmiah. Semoga aku dapat menyelesaikan kuliahku tepat pada waktunya, tidak terlalu lama dan menjadi "mahasiswa abadi". :-p

Salam.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

7 comments:

Cerita Dewasa mengatakan...

Mantaaaaaafffffffff

Kata Bijak mengatakan...

Memang Mantaaffff

putra jumapolo mengatakan...

blog nya bagus mbak.... aku ikut baca ya?

Tom's mengatakan...

kerennnn.....^_^

tigan mengatakan...

Bagus mbak blognya...mantapz lah. Izin baca ya??

Anonim mengatakan...

mantaf sist, 4 thumbs up bwt anda hehe

Agus Halawa mengatakan...

baca about nya lucu,,buat ketawa,,,
sukses y sll buat Merry,,,,

Posting Komentar